Kayuagung, OKI, Persada Ekspres.com- Agenda tahunan Midang Bebuke Morge Siwe pada lebaran ke tiga dan keempat yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten OKI berlangsung semarak. Tradisi yang dilaksanakan secara rutin oleh masyarakat kota Kayuagung itu menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat bende seguguk kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).
Kegiatan besar itu diikuti oleh sebelas kelurahan dalam kota kayuagung, yakni Kelurahan Sidakersa, Jua-Jua, Tanjung Rancing, Kayuagung Asli dan Kelurahan Kota Raya, Kelurahan Kedaton, Cinta Raja, Mangun Jaya, Paku, Sukadana dan Kelurahan Perigi, selama dua hari pada hari ketiga dan keempat di hari raya idul fitri.
Informasi berhasil di himpun, arak-arakan peserta memakai pakaian adat perkawinan “Mabang Handak” (adat perkawinan kayuagung, -red) dengan berbagai macam pakaian adat perkawinan diiringi dengan musik tradisional tanjidor sebagai pembatas dari masing-masing kelurahan berlangsung semarak.
Kelurahan pertama yang tiba di pendopoan rumah dinas Bupati OKI, yakni kelurahan Tanjung Rancing yang merupakan kelurahan ke sebelas dan termuda setelah kelurahan Cinya Raja, kemudian disusul oleh peserta midang dari kelurahan Jua-jua, Sidakersa, Mangun Jaya, Kayuagung Asli dan terakhir dari kelurahan Kota Raya.
Plt Bupati OKI, HM Rifa’i, SE didampingi sekda OKI, H Husin, SPd, MM mengatakan, bahwa saat ini Pemerintah Daerah Kabupaten OKI sangat konsen mendukung tradisi midang sebagai warisan tradisi budaya leluhur yang sangat mahal nilai karakteristiknya.
“Tradisi ini merupakan aset budaya yang sangat diperhatikan disamping tradisi lainnya di Kabupaten OKI. Kondisi midang sampai saat ini masih sangat lestari bahkan berkembang menjadi wisata budaya,” jelasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan pariwisata (Kadisbudpar) Kabupaten OKI, Ifna Nurlela menambahkan midang saat ini masih menjadi salah satu adat budaya masih bertahan didilestarikan saat ini di kabupaten OKI.
“Adat arak-arakan ini sudah sejak lama dilakukan, para pelakunya adalah para muda-mudi dalam kelurahan, dahulu midang dilakukan oleh muda-mudi yang kelurahannya ada hajatan pernikahan, Kemudian untuk melestarikanya dikembangkan menjadi agenda tahunan pariwisata setiap tahunnya, tepatnya di setiap lebaran,” ujarnya.
Midang ini sendiri juga menjadi event pariwisata nasional yang artinya midang ini sendiri bukan hanya milik kabupaten OKI saja tetapi sudah menjadi salah satu atraksi pariwisata yang terdaftar di kementerian pariwisata dan pernah juga ditampilkan diistana negara pada tahun 2007, ungkapnya.
Sementara Budayawan OKI, Yuslizal menuturkanawal mulanya midang bebuke morgesiwe terjadi pada abat ke-17, ketika itu ada perseteruan antara pihak mempelai laki-laki dan perempuan. Pihak mempelai laki-laki berasal dari keluarga yang miskin tetapi berkepribadian yang luhur.
Sedangkan pihak perempuan berasal dari keluarga yang terpandang atau kaya. Sebab perbedaan itulah, pihak perempuan meminta sejumlah syarat berupa kereta hias menyerupai naga dan pengumuman dari keluarga laki-laki. Akhirnya persyaratan itu dipenuhi oleh pihak laki-laki.
“Jadi, sejak peristiwa itulah, masyarakat Kota Kayuagung menyelenggarakan acara midang bebuke morge siwe,” ungkapnya.
Dijelaskannya juga midang dalam istilah masyarakat kayuagung adalah sebuah kegiatan berjalan kaki dengan menggunakan pakaian adat perkawinan masyarakat kayuagung, sedangkan bebuke artinya lebaran. (Karim Uwom/Editor:Asrul)
Post Comment
Anda harus masuk untuk berkomentar.