Reporter: Muhammad Ilham Riezky

Seragam pelatihan yang dikenakan Ningsih Aryani tampak sama seperti milik peserta lainnya di Markas Yonzipur 2/Samara Grawira, Prabumulih. Berwarna senada, lengkap dengan atribut yang dikenakan selama menjalani pendidikan. Namun, bagi perempuan berusia 26 tahun asal Kelurahan Sukajadi Kota Prabumulih, seragam itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Di baliknya tumbuh harapan baru untuk mengembangkan diri, membuka peluang karier, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.

Harapan itu mengantarkan Ningsih bergabung dalam Pertamina Local Community Leaders Program (PLCLP) 2026 yang diselenggarakan Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4. Selama lebih dari dua pekan, ia bersama 99 peserta lainnya dari 11 kabupaten dan kota di wilayah operasi PHR Zona 4 mengikuti pendidikan karakter, wawasan kebangsaan, serta pelatihan berbasis kompetensi.

Di tengah rutinitasnya sebagai staf administrasi di sebuah sekolah, Ningsih memilih keluar dari zona nyaman. Lulusan Diploma III Komputer tersebut melihat PLCLP sebagai kesempatan untuk menambah pengalaman sekaligus memperoleh kompetensi baru yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Pilihannya jatuh pada kelas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), bidang yang sebelumnya belum pernah ia pelajari secara mendalam. Baginya, mempelajari budaya keselamatan kerja menjadi tantangan sekaligus peluang untuk memperluas wawasan.
“Tujuan saya mengikuti pelatihan ini adalah mendapatkan pengalaman dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi,” ujar Ningsih.
Hari demi hari di ruang pelatihan menjadi perjalanan yang membuka perspektif baru. Bersama instruktur profesional, ia memahami bahwa K3 bukan sekadar prosedur atau aturan yang harus dipatuhi di lingkungan kerja. Lebih dari itu, K3 merupakan budaya yang mampu menciptakan lingkungan kerja yang aman, sehat, produktif, dan profesional.
Tak hanya mendapatkan materi teknis, para peserta juga ditempa melalui pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan. Disiplin, tanggung jawab, kerja sama, hingga kepemimpinan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang melengkapi keterampilan teknis yang mereka pelajari.
“Banyak hal yang sebelumnya belum saya ketahui, sekarang menjadi tahu. Pelatihan ini memberikan pengalaman yang sangat berharga,” katanya.
PLCLP 2026 menghadirkan lima kelas pelatihan berbasis kompetensi, yaitu operator K3, rigger (juru ikat beban), teknisi AC perumahan, montir sepeda motor, dan jurnalistik. Program ini menjadi wujud komitmen PHR Zona 4 dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mencetak generasi muda yang memiliki kompetensi dan karakter untuk bersaing di dunia kerja.
Bagi Ningsih, pengalaman mengikuti PLCLP bukan sekadar tentang memperoleh ilmu atau sertifikat. Pelatihan ini menjadi titik awal untuk membangun kepercayaan diri dan keyakinan bahwa setiap kesempatan belajar akan membuka peluang yang lebih besar di masa depan.
Ia berharap program seperti PLCLP dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak generasi muda yang merasakan manfaatnya.
“Semoga tahun depan program ini diadakan lagi dengan peserta yang lebih banyak dan juga dapat membuka lebih banyak lowongan pekerjaan bagi masyarakat,” harapnya.
Perjalanan Ningsih di kelas K3 mungkin baru berlangsung beberapa pekan. Namun, pengalaman itu telah meninggalkan jejak yang akan terus ia bawa. Seragam pelatihan yang dikenakannya bukan lagi sekadar atribut kegiatan, melainkan simbol keberanian untuk keluar dari rutinitas, belajar hal baru, dan menjemput masa depan yang lebih baik. Dari ruang kelas di Yonzipur 2/Samara Grawira, tumbuh harapan baru yang diyakini akan mengantarkannya menuju peluang-peluang yang lebih luas. (*)



Post Comment
Anda harus masuk untuk berkomentar.