HARI INI, Minggu pagi, (27/10/2024), Saya mencoba menjelajah – ‘berayau’ ke daerah pinggiran sungai Musi, yakni arah Raider, ke kiri desa Sukarela /Semuntul kecamatan Rantau Bayur Kabupaten Banyuasin. Lumayan, cari pengalaman hidup, kali bae ade ketemu kawan dan rezeki di daerah ini, he he.
Alhamdulillah, perjalanan dengan motor butut, lancar jaya. Infrastruktur jalan lumayan bagus, jalan masih proses cor beton..
Selama ini, daerah ini seumur hidup belum pernah saya lalui. Saya tahu daerah pinggiran sungai musi itu salah satunya bernama desa Semuntul dari rambu-rambu lalulintas pinggiran jalan utama dan searching melalui kanal peta digital ‘map’ jejaring internet.

Dalam perjalanan, kiri kanan jalan masih banyak ditumbuhi hutan karet, dan minimnya rumah penduduk. Ketika mendekati sungai musi, penduduk desa Sukarela – Semuntul lumayan padat.
Saya kaget, di persimpangan jalan, antara desa Sukarela dan Semuntul saya dicegat oleh Bapak-bapak mengaku habis bertani menawarkan diri untuk menumpang – ‘nebeng’ pulang ke rumah.
Awalnya saya curiga, apa betul Bapak-bapak itu orang baik-baik, maklum jalan sangat sepi, tidak ada penduduk yang lewat. Alhamdulillah, komunikasi dengan logat bahasa Pegagan dan saya pun alhamdulillah bisa mengimbangi. Kecurigaan saya akhirnya sirna, saya ajak Bapak-bapak mengaku habis bertani itu untuk pulang ‘nebeng’ ke rumahnya.
Bapak-bapak berusia lanjut dan berprofesi sebagai petani itu nampak masih sehat. Di usianya lumayan cukup tua, ia mengaku masih sanggup bertani dan mengucapkan terimakasih telah dibantu nebeng ke rumahnya. Jarak ke rumahnya jika dilalui dengan berjalan kaki dari persimpangan desa lumayan jauh menukik dan menurun.
Usai menghantarkan Bapak tadi, sayapun menikmati suasana sungai musi yang nampak indah. Teringat masa-masa kecil dulu, melihat indahnya sungai musi, banyak dilalui lalulalangnya perahu jukung dan speedboat.
Dahulu di era tahun 1980-an, sangat jarang sekali ditemui kendaraan mobil ataupun motor. Kendaraan transportasi rakyat kala itu banyak digunakan masyarakat desa yakni transportasi sungai perahu jukung – getek hingga sekoci (speedboat). Kenangan dan kangen masa-masa kecil itu datang kembali dan terasa nyata – terobati. Asyik dan Indah ya ‘berayau’ (menjelajah,red) – menikmati wisata sungai di pinggiran desa sungai musi.
Sebenarnya perjalanan mau jauh lagi, namun saya ragu. Keraguan itu sangat mendasar. Selain kendaraan motor saya pakai kurang fit, perlu juga nyali yang tinggi melewati perkebunan pinggiran sungai musi yang tergolong sangat sepi. Kadang keraguan dalam perjalanan memberikan hal baik, akhirnya saya putuskan pulang ke Palembang ‘menerobos’ jalan kecil yang hanya bisa dilalui motor di pinggiran perusahaan Karet di Pulo Kerto.
Palembang, 27 Oktober 2024
Nasrullah, S.Sos / Pemimpin Redaksi PersadaEkspres.com



Post Comment
Anda harus masuk untuk berkomentar.